Kenaikan Kurs Mata Uang dan Ekspor

Pertambahan jumlah rupiah tidak akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan, kecuali pemerintah berupaya keras meningkatkan perdagangan ekspornya.


Rupiah sebagai alat tukar memerlukan nilai yang stabil. Analis memprakirakan rupiah masih akan di zona merah setelah kemarin nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 48 poin atau 0,34 persen ke level Rp13.983 per dolar AS. Kemarin rupiah bergerak pada kisaran Rp13.941 – Rp13.985 per dolar AS. Kini rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terlemah kedua di antara mata uang Asia lainnya (Bisnis.com, 18 Juli 2019). Dalam siatuasi tertentu, kurs mata uang yang melemah menjadi keuntungan suatu negara asalkan produk berlimpah ruah dapat diekspor.

Seharusnya penilaian kurs lebih rendah akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi lebih baik. Pajak lebih kecil karena jumlah transaksi yang berlangsung menurun, tetapi bisa juga pajak lebih kecil bagi yang memiliki jumlah transaksi lebih banyak. Pernyataan ini benar bagi negara berkembang yang memiliki perdagangan aktif. Perdagangan antara negara maju yang berpendapatan tinggi (high income) dan negara berkembang berpendapatan rendah (low income) menimbulkan posisi tidak seimbang. Kemampuan rendah negara berkembang membeli produk negara maju membuat produktivitas negara maju menurun, nilai ekspor perdagangan negara maju terlalu kecil.

Nilai Kurs dan Pemungutan Pajak

Ketidakmampuan negara berkembang untuk membeli barang negara maju menimbulkan kegagalan pasar dunia. Pembayaran negara berkembang terhadap produk impor nilainya lebih besar dari ekspornya. Negara berkembang lebih banyak membeli dolar yang mengurangi nilai kurs mata uangnya. Penilaian kurs ini menimbulkan hubungan tingkat pertukaran mata uang secara riil dan tingkat pertumbuhan ekonomi (Dani Rodrik, 2008).    

Penilaian kurs rupiah yang terlalu rendah akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Adapun pengekspor akan menahan dolar karena kurs rupiah rendah menimbulkan permasalahan. Apabila pembelian kembali faktor produksi berasal dari bahan impor, maka persediaan dolar harus tersedia. Lagipula penerimaan keuntungan yang diperoleh dapat mengalami risiko penurunan nilai, apabila uangnya dalam bentuk rupiah. Oleh karenanya, Sampai saat ini, pajak untuk perusahaan ekspor barang belum mencapai target yang dicanangkan oleh pemerintah. Saat ini kurs rupiah tidak mengalami peningkatan yang dapat dibanggakan, bahkan sebaliknya.

Namun seberapa lama kurs rupiah bertahan dalam posisi rendah tergantung kepada perang dagang anatara Amerika dan Cina. Kenaikan rupiah tidak dipicu oleh perbaikan tingkat perdagangan di Indonesia. Kemampuan transaksi yang memiliki tujuan ekspor. Perdagangan di Indonesia yang berorientasi ekspor  menguatkan rupiah. Perdagangan tersebut menimbulkan pembelian rupiah dari negara pengimpor. Mereka menggunakan pembayaran dengan dolar Amerika untuk membeli rupiah. Nyatanya, perdagangan Indonesia yang mendatangkan devisa negara tidak berubah secara signifikan.

Sama halnya dengan barang dan jasa, mata uang mengikuti mekanisme pasar. Individu dapat menganalisa sebelum melakukan transaksi mata uang. Sementara mekanisme pasar mata uang mengikuti penawaran dan permintaan. Kelangkaan (scarcity) mata uang tertentu menjadi nyawa dari kenaikan nilai mata uang. Pemerintah Amerika dapat mengambil kebijakan untuk mengatasi kelangkaan dengan menaikan bunga bank. Individu di Indonesia yang tertarik akan mencairkan dolarnya. Permintaan dolar meningkat secara cepat, sehingga investor di Indonesia akan menjual rupiah. Hal ini akan membuat rupiah over supply yang akan menurunkan nilainya. Sebaliknya pengumuman pemerintah Amerika yang menurunkan bunga bank mempengaruhi individu yang ingin berinvetasi ke Indonesia. Permintaan rupiah akan membuat excess demand atas rupiah. Nilai rupiah akan melonjak naik karena kelangkaan persediaannya. Individu akan berani membeli dolar dengan nilai yang lebih tinggi karena kebutuhannya untuk membayar utang.      

Inilah sistem kapitalis yang menjadi alas transaksi perdagangan global yang menguntungkan negara-negara maju. Setiap individu tidak pernah memiliki negara yang dengan tenang ia dapat menginvestasikan dananya, tetapi ia harus mencari tempat yang paling menguntungkan dirinya. Perpindahan uang dari suatu negara ke negara lain dalam waktu yang cepat adalah hal yang lumrah. Asumsi ekonomi yang menyatakan individu akan memaksimalkan kepuasannya adalah asumsi yang paling masuk akal dalam sistem demokrasi kapitalis.

Keberuntungan Amerika

Pasar mata uang di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi gelisah. Pemerintah dan perusahaan lokal telah meminjam dolar untuk meningkat produktivitasnya dalam beberapa tahun belakangan ini. Bila nilai dolar meningkat dan nilai mata uang lokalnya turun, maka investor akan menarik uangnya dalam mata uang dolar keluar negeri. Pembayaran dalam mata uang rupiah akan meningkat dengan sendirinya, karena kenaikan nilai dolar. Kelemahan negara berkembang yang mudahnya terpengaruh dengan kebijakan Federal Reserve karena dolar sebagai mata uang internasional.  Seperti yang diungkap dalam The Crisis of Capitalist Democracy (Richard A. Posner 2011), Amerika dapat bertahan dari krisis ekonomi karena keberuntungannya sebagai negara yang mata uangnya dijadikan mata uang internasional. Mata uang dolar yang tersimpan di negara lain tanpa Amerika mengeluarkan dana dari dalam negerinya menjadi keuntungan yang didapatnya.

Perdagangan yang dilakukan oleh Amerika bukan lagi perdagangan barang atau jasa, tapi perdagangan nilai tukar mata uang dolar dengan mata uang lokal. Dalam hal ini, Amerika tidak memerlukan transaksi produk atau jasa. Permintaan akan mata uangnya sudah menjadi produk yang menguntungkannya. Kebijakannya menaikkan bunga bank akan memicu kerugian besar dari negara yang berkembang. Diperkirakan uang dolar yang akan keluar dari negara berkembang sekitar 1 milyar dolar (CNN, Money, 2015), bila Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan bunga banknya. Kebijakannya akan mempengaruhi ekonomi global.

Ketergantungan Indonesia kepada dolar sebagai mata uang internasional tidak dapat dihindari. Permintaan mata uang rupiah dari negara lain tidak membuat nilai tukar uangnya dapat diandalkan. Negara lain akan tetap meminta mata uang yang diakui oleh internasional. Eropa telah melakukannya dengan melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap dolar. Namun mata uang Euro sebagai mata uang yang menjadi alat tukar membutuhkan kekuatan ekonomi negara anggotanya. Kelemahan nilai tukar mata uang anggotanya akan mempengaruhi nilai mata uang Euro.   

Nampaknya ketergantungan Indonesia terhadap dolar akan berlangsung terus sampai akhir jaman, kecuali negara-negara Asia Tenggara (South East Asia) membuat mata uang bersama yang tidak terpengaruh dengan keadaan negara anggotanya. Mata uang yang dipercaya oleh masing-masing negara anggotanya. Sama halnya dolar yang dikukuhkan melalui Sistem Bretton Wood (1944-1976) yang menetapkan dolar sebagai mata uang internasional. Kemauan untuk mengakui satu mata uang di Asia Tenggara yang dipatok dalam mata uang dunia yang terkuat dalam perdagangan global dan disesuaikan dan nilai tukar keadaan negara anggotanya dapat memutus mata rantai kelemahan sistem demokrasi kapitalis yang membawa kerugian negara berkembang. Keberuntungan Amerika memiliki dolar yang menjadi mata uang internasional terbukti dengan krisis ekonomi yang dapat diatasinya dari negara-negara lain sebagai donatur terbesarnya, yang termasuk dalam negara-negara berkembang.     

Dengan demikian, pertambahan jumlah rupiah tidak akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan, kecuali pemerintah berupaya keras meningkatkan perdagangan ekspornya.

Dr Chandra Yusuf, SH, LL,M., MBA., MMgt (Dewan Pengawas Kolegium Jurist Institute/Pakar Hukum Ekonomi Universitas YARSI)

Share your thoughts